Banjir besar melanda Asia Tenggara pada akhir tahun 2023, mengejutkan negara-negara di kawasan tersebut dan mengekspos kerentanan yang terus meningkat terhadap perubahan iklim. Cuaca ekstrem, yang dipicu oleh fenomena El NiƱo dan curah hujan yang tidak menentu, telah mengakibatkan banjir dahsyat di beberapa negara, termasuk Malaysia, Thailand, dan Filipina. Peristiwa ini menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan, serta mengancam nyawa dan kesehatan masyarakat.
Sebagai contoh, di Malaysia, banjir melanda kawasan pantai timur dan utara. Ribuan penduduk terpaksa mengungsi ke pusat pemindahan sementara. Badan Penanggulangan Bencana Malaysia melaporkan bahwa lebih dari 100.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan bangunan publik, mengalami kerusakan parah, dan pemulihan membutuhkan biaya miliaran ringgit.
Di Thailand, sungai-sungai meluap setelah hujan lebat berhari-hari. Banjir besar ini menghantam wilayah Bangkok dan sekitarnya, memicu kekhawatiran tentang dampak jangka panjang terhadap ekonomi negara yang bergantung pada sektor pariwisata. Pemerintah mengerahkan tim penyelamat untuk membantu meringankan kesulitan bagi penduduk yang terperangkap, serta mendistribusikan makanan dan obat-obatan. Catatan terbaru menunjukkan bahwa kerusakan tahunan akibat banjir di Thailand mencapai miliaran baht.
Filipina, yang juga rentan terhadap bencana alam, mengalami kondisi yang sama. Wilayah Luzon terutama merasakan dampaknya, dengan hujan deras menyebabkan tanah longsor dan banjir. Badan Penanggulangan Bencana Alam Filipina melaporkan bahwa lebih dari satu juta orang terpengaruh, dan banyak daerah terputus dari akses jalan. Koordinasi antara pemerintah lokal dan organisasi non-pemerintah (NGO) sangat penting dalam memberikan bantuan kemanusiaan kepada yang membutuhkan.
Perubahan iklim memainkan peran krusial dalam frekuensi dan intensitas banjir di Asia Tenggara. Kenaikan suhu global menyebabkan peningkatan curah hujan yang ekstrem, sementara penebangan hutan dan pengembangan lahan memperburuk risiko banjir. Negara-negara di Asia Tenggara harus berinvestasi dalam infrastruktur yang lebih tangguh dan memprioritaskan strategi mitigasi risiko. Upaya untuk memulihkan ekosistem yang rusak, seperti reboisasi, bisa menjadi solusi jangka panjang yang efektif.
Pemerintah dan masyarakat lokal perlu memperkuat kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan bencana. Pelatihan dan edukasi harus diberikan kepada masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat diambil sebelum, selama, dan setelah bencana. Dengan meningkatkan kapasitas lokal dalam menghadapi bencana, risiko kehilangan nyawa dan kerugian harta benda dapat diminimalkan.
Selain itu, kerjasama regional antara negara-negara Asia Tenggara sangat penting. Dengan berbagi data hindari, teknologi, dan pengalaman terbaik dalam penanganan bencana, negara-negara dapat mengatasi tantangan yang sama. Forum-forum internasional juga dapat memfasilitasi dialog untuk penanganan masalah-masalah ini secara kolektif.
Dalam menghadapi tantangan banjir besar di Asia Tenggara, upaya bersama dibutuhkan untuk membangun ketahanan. Investasi di bidang pendidikan, infrastruktur, dan kebijakan perlindungan lingkungan adalah langkah penting untuk memastikan kesejahteraan masyarakat. Saat dunia menghadapi ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, penanggulangan banjir harus menjadi prioritas bagi negara-negara Asia Tenggara.